Selasa, 30 Desember 2014

MAKALAH HADIS EKONOMI ISLAM


TUGAS MANDIRI
HADIST EKONOMI
MANFAAT BERINFAK
Dosen Pembimbing:
PROF.DRS.ENIZAR,M.A


Description: C:\Documents and Settings\user\My Documents\LOGO\STAIN 3.jpg

                       
NAM:             DWI WAHYUDI
NPM:              1172664
PRODI:                      EI
SEMESTER: III
KLS:               F

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN JURAI SIWO METRO)
THN 2011/2012


BABI
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Dalam kegiatan ekonomi kita harus mengetahui tatacara infak sebagai mana mestinya, dan harus mengetahui segala yang berkaitan dengan ifak dalam hal ini berinfak adalah suatu keharusan kita untuk menjadi muslim yang mukmin yang dimuliakan oleh allah dengan cara berinfaklah sesuai dengan ajaran islam suapaya kita bisa memaparkan infak kita dengan baik dan dengan ihlas.
B.rumusan masalah
1.apa keutamaan orang yang berinfak?
C.Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu guna memenuhi tugas mata kuliah hadist ekonomi  yang sebagaimana pembuatan makalan ini sebagai tugas mandiri yang di berikan sebagi salah satu dalam sisitim pembelajaran mata kuliah hadis ekonomi Kemudian juga sebagai  penambah wawasan untuk kita semua khususnya pembuat makalah.









BAB II
PEMBAHASAN
1. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا                                                                .

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti [1] bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah [2] (harta) orang yang kikir.’” [3]

penjelasan :Di antara hal yang bisa kita fahami dari hadits di atas bahwa ash-Shaadiqul Mashduuq, yaitu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa sesungguhnya para Malaikat berdo’a agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan harta orang yang berinfak.
Al-‘Allamah al-‘Aini ketika menjelaskan hadits tersebut berkata: “Makna khalaf adalah pengganti, sebagaimana dalam sebuah ungkapan: ‘Akhlafallaahu khalfan’ maknanya adalah semoga Allah menggantikannya.” [1]

Pengertian Infaq. Infaq berasal dari bahasa Arab, namun telah dibahasa Indonesiakan dan berarti; pemberian (sumbangan) harta dan sebagainya untuk kebaikan. Dalam bahasa Arab (infaq/ إنفاق). Akar kata dan tashrif-nya adalah نفق-ينفق-نفقا أو نفاقا و إنفاق  yang berarti sesuatu yang habis. Dalam al-Munjid, dikatakan bahwa نفق-نفاق  boleh juga berarti dua lubang atau berpura-pura dan didalam agama ia dikenal dengan istilah munafiq.
Menurut Ibn Faris ibn Zakariyah, Infaq mempunyai dua makna pokok, yakni 1) terputusnya sesuatu atau hilangnya sesuatu, 2) tersembunyinya sesuatu atau samarnya sesuatu. Dua pengertian Infaq tersebut, makna yang relevan dengan pengertian infaq di sini, adalah makna yang pertama.
Sedangkan pengertian infaq yang kedua lebih relevan dipergunakan untuk pengertian munafiq. Alasan penulis adalah; seseorang yang menafkahkan hartanya secara lahiriyah, akan hilang hartanya di sisinya dan tidak ada lagi hubungan antara harta dengan pemiliknya. Adapun makna kedua adalah; seorang munafiq senantiasa menyembunyikan kekufurannya, dan atau tidak ingin menampakkan keingkarannya terhadap Islam.
Dengan demikian, pengertian Infak menurut etimologi adalah pemberian harta benda kepada orang lain yang akan habis atas hilang dan terputus dari pemilikan orang yang memberi. Dengan ungkapan lain, sesuatu yang beralih ke tangan orang lain atau akan menjadi milik orang lain.
BERINFAQ DI JALAN ALLAH
Perumpamaan (infaq yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melibatgandakan bagi siapa yang dikehendakin-Nya, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang yang menfakahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak diiringinya apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberian dan yang menyakiti hati, mereka diberi pahala disisi Tuhan mereka. Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka berduka cita
(Al-Baqoroh (2): 261-262)
Dalam hidup ini, sudah semestinya kita selalu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, baik dengan cara mendirikan shalat, menunaikkan kewajiban dan menjauhi larangan-larangan Nya. Bentuk lain dalam memperbaiki hubungan kita kepada Allah adalah dengan cara memberi makan hamba-hamba Allah lainnya yang berkekurangan, memberi dan membantu orang-orang yang membutuhkannya, sebagaimana firman Allah,”Dan di harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (adz-Dzariat (51) :19)
Infaq dijalan Allah adalah sifat terpenting dari orang-orang yang bertaqwa. Karena mereka tahu bahwa harta yang ada pada mereka bukanlah milik mereka, namun milik Allah, yang Allah berikan kepada mereka, lalu Allah membelinya dari mereka, sebagaimana firma-Nya, Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (at-Taubah (9):111)
Jadi, orang-orang yang bertaqwa percaya bahwa harta harta yang ada ditangan mereka adalah harta Allah. Dan mereka tidak boleh menahannya dari orang-orang yang diperintahkan Allah untuk mereka beri. Mereka berinfaq di jalan Allah siang-malam dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Sayyidah Aisyah r.a berkata bahwa beliau pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda,” Apabila harta kekayaan tidak terdapat sedekah sama sekali, maka ia akan membinasakannya”.
Bersedekahlah segera saat kita sehat, karena itulah keutamaan sedekah. Abu Hurairah r.a berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Rosulullah SAW, “Wahai Rosulullah, apakah sedekah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan sangat pelit, saat engkau mengharapkan kekayaan dan mengkhawatirkan kefakiran. Jangan engkau biarkan (niat sedekahmu), meskipun nafasamu telah sampai ditenggorokan, dengan berkata-kata, bagi si Fulan sejumlah ini dan bagi si Fulan sejumlah ini, lalu harta itu menjadi milik si Fulan (ahli waris)”.
Harus diakui bahwa sifat kita sebagai manusia pada hakikatnya adalah kikir atau bakhil. Utamanya terhadap harta benda milik kita yang diperoleh dengan susah payah. Hal ini sesuai dengan firma Allah :”Jiwa manusia itu diberi perangai untuk menjadi kikir” (an-Nisa’ (4):128)
Sifat kikir (bakhil) tersebut termasuk salah satu sifat tercela dan hina. Bahkan Allah SWT membenci orang yang bakhil dalam hidupnya dan baru memiliki sifat dermawan menjelang ajalnya. Abu Hanifah r.a berkata, “saya tidak melihat keadilan pada orang bakhil, karena kebakhilan menyebabkannya menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam. Lantas, ia mengambil harta melebihi haknya karena takut tertipu. Barang siapa yang keadaannya seperti ini, ia tidak layak dipercaya untuk memikul amanah.”
Oleh karena itu, jiwa kita harus senantiasa disucikan dari sifat kikir. Dan infaq (serta sedekah) merupakan salah satu wasilah terpenting untuk menyucikan jiwa dari kekikiran dan akan menjauhkan kita dari api Neraka, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan akan dijauhkan ia yakni dari api neraka yang paling berbakti. Yang membelanjakan hartanya untuk menyucikan (a-Lail (97):17-18)
Tanamkan dalam hati bahwa infaq dan sedekah merupakan hak Allah yang diamanahkan kepada kita. Di dalam harta kita ada hak-haknya fakir miskin dan orang-orang yang memerlukannya, terutama kerabat, tetangga dan orang-orang disekitar kita. Infaq dijalan Allah SWT kelihatannya rugi dari ukuran dunia disebabkan harta jadi berkurang. Tetapi ia akan meraih keuntungan besar, kelak di Akhirat, sesuai dengan wasiat Rosulullah SAW kepada Imam Ali ibn Abi Thalib, “Ya Ali! Keluarkanlah infaq hartamu dan berilah kelapangan terhadap familimu, dan janganlah khawatir terhadap Allah SWT yang memiliki Arsy bahwa ia akan menyediuakan karunia-Nya terhadapmu”.
Dalam salah satu hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai manusia! Kekayann-Ku tidak akan pernah habis selamanya. Semakin banyak engkau berinfaq, sebanyak itu pula aku akan memberi rizki padamu. Seberapa pula tingkat kekirinmu sekadar itu pula Aku menahan rizkimu”. Adakalanya sifat bakhil itu muncul dari ketakutan kita akan kemiskinan. Takut anak-anak kita terlantar akibat tak meninggalkan harta kepada mereka. Ketakutan semacam itu hanya wajar jika timbul dihati orang-orang kafir, yang tak yakin Allah Maha Pemurah dan Maha Penolong. Allah SWT berfirman,”Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari padanya dan karunia. Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (al-Baqoroh (2):268)

Dalam menunaikan Infaq maupun Shodaqoh,ada baiknya kita memahami etika/cara dalam menunaikannya. Hal ini dimaksudkan agar apa yang kita Infaq atau shodaqohkan sesuai dan mendapat berkah dari Allah SWT.

Adapun etika dalam melaksanakan Infaq ataupun shodaqoh diantaranya adalah,

1. Paham, dalam artian hakikat berinfaq dan bershodaqoh berdasarkan dalil yang ada.

2. Ikhlas, tanpa mengharap sesuatu selain karena mengharap Rahmat dari Allah SWT.

3. Yang terbaik, artinya sesuatu yang kita Infaq/shodaqohkan adalah sesuatu yang terbaik dari yang ada,(bukan dari yang sisa/bekas dan harus halal). Firman Alla SWT,
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata…” (al-Baqarah:267)


4. Merahasiakannya, agar tidak menjadi riya’ dan pamrih. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT,
“Jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang faqir maka hal itu lebih baik bagi kamu.” (al-Baqarah:271)

5. Tidak mengungkitnya dikemudian hari. Karena dalam hal ini Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu membatalkan shadaqah kamu dengan membangkit-bangkit dan menyakiti.” (al-Baqarah:264)

    Berdasarkan penjelasan diatas setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa antara Infaq dan Shodaqoh tidak jauh berbeda dari segi tekhnis dan ketentuan peruntukannya. Namun Shodaqoh memiliki lingkup yang lebih luas karena tidak hanya meliputi materi,namun yang non materi bisa dijadikan obyek untuk bershodaqoh.

    Dan dari itu semua, dengan membiasakan diri kita berInfaq maupun bershodaqoh, maka secara tidak langsung kita telah berinvestasi untuk akherat kelak. Selain itu dengan berInfaq/Shodaqoh kita telah menumbuhkan akhlak mulia pada diri kita, lebih peka dengan orang lain, mengikis sifat kikir dan serakah, dan pada akhirnya tercipta suasana hati yang tentram...
berinfaq haruslah dengan harta yang dicintai atau harta yang terbaik. Allah SWT berfirman,”Kamu tidak akan mendapat (balasan) kebaikan kecuali kamu mendermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi, Apa pun yang kamu dermakan, Allah pasti mengetahuinya. ” (QS. Ali Imran [3]: 92)
Menurut riwayat yang hadis, ketika ayat ini turun, banyak sahabat Rasulullah SAW yang tersentuh, di antaranya adalah Abu Thalhah ra yang memiliki banyak kebun kurma dan kebun yang paling disukainya yang berada persis di depan Masjid Nabawi. Rasulullah kerap singgah ke dalam kebon itu. Abu Thalhah datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, Allah telah menurunkan ayat ini. Harta yang paling kucintai adalah Birha’. Kini aku serahkan itu untuk simpanan disisi Allah. Letakkanlah ditempat yang dikehendaki Allah”.Rasulullah bersabda, “Inilah harta yang banyak mendatangkan pahala. Bagikan kepada keluargamu yang miskin”. Abu Thalhah kemudian membagikannya kepada kaum kerabatnya. (HR Bukhari dan Muslim).
Ayat Al Quran yang dikutip atas, sekaligus mengoreksi cara pandang atau paradigma yang keliru dalam berinfaq dan bershadaqah. Paradigma yang umumnya tertanam pada sebagian besar manusia ialah menginfaqkan harta itu cukup dari sesuatu yang sudah tidak terpakai atau kurang bernilai. Hal itu terlihat misalnya dari kebiasaan untuk mengumpulkan pakaian bekas yang sudah tidak dipakai lagi untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan atau memberi uang recehan untuk mengisi kotak amal di masjid.
Berinfaq pada kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin amat ditekankan dalam Islam. Untuk itu, sebagai bagian dari panggilan dakwah, kita sekarang perlu membangkitkan kesadaran berinfaq dan bershadaqah yang akan mendorong tumbuhnya empati dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Maraknya kekerasan dan letupan-letupan konflik yang sering menimbulkan kerusuhan, boleh jadi sebagian adalah akibat hilangnya empati dan solidaritas sosial pada warga masyarakat. Dapat dibayangkan akibatnya andaikata setiap orang atau kelompok dalam masyarakat hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri dan masa bodo dengan kepentingan orang lain.
Dalam kaitan dengan
infaq atau shadaqah ini, menarik direnungkan ayat Al Quran, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah (2) : 276).
Dalam Al-Quran dan Tafsirnya yang disusun oleh tim Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa ayat di atas menegaskan bahwa riba itu tidak ada manfaatnya sedikit pun baik di dunia maupun di akhirat nanti. Yang ada manfaatnya adalah sedekah. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Artinya memusnahkan harta riba dan harta yang bercampur dengan riba atau meniadakan berkahnya. Dan “menyuburkan shadaqah” ialah mengembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama atau melipat gandakan berkah harta itu.
Melalui sosialisasi dan edukasi zakat, infaq dan shadaqah yang dilakukan secara terus menerus oleh basnas maupun Las melalui berbagai sarana dan media, diharapkan akan memperkuat budaya berinfaq dari harta yang terbaik dan tentu yang pasti juga harta yang halal. Sebab, Allah SWT tidak akan menerima infaq dan shadaqah yang berasal dari harta yang didapatkan secara haram, sekalipun dengan niat yang ikhlas.Dengan demikian, kesadaran berinfaq dan bershadaqah secara tidak langsung mendidik pelakunya menjadi manusia yang berkarakter, memiliki kejujuran, akhlak dan etika dalam bekerja/mencari rizki.
Wallahu a’lam bisshawab.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
۱۳۸۹- وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ:وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًاسَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.۱۳۹۰- وَعَنْهُ أَيْضًا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ دَعَاإِلىٰ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الاَجْرِمِثْلُ أُجُرِمَنْ تَبِعَهُ لاَيَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا.رَوَاهُ مُسْلِمٌ.۱۳۹۱-وَعَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :إِذَا مَاتَ ابْنُ دَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:صَدَقَتٍ جَارِيَةٍأَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِأَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
1389. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan utk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”1390. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menyerbu kepada hidayah maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yamh mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.”1391. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Jika anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya melainkan tiga hal; shadaqah jariyyah ilmu yg bermanfaat dan anak shalih yg mendo’akannya.”Ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan pengaruh serta dampaknya yg baik.Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Dan barang siapa menempuh satu jalan utk mendapatkan ilmu maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga”. “Menempuh Jalan” disini mencakup: Jalan secara indrawi yaitu jalan yg dilalui kedua kaki seperti sesorang pergi dari rumahnya menuju tempat utk menimba ilmu baik berupa masjid madrasah ataupun universitas dan lain sebagainya.Dan termasuk hal ini adl rihlah dalam rangka mencari ilmu yaitu seseorang yg rihlah dari negerinya ke negeri lain utk mencari ilmu maka hal ini adl termasuk menempuh jalan utk mendapatkan ilmu.Sungguh Jabir bin Abdillah Al Anshori radhiallahu ‘anhu seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan rihlah utk mendapatkan satu hadits selama perjalanan sebulan di atas onta beliau menempuh perjalanan dari negerinya ke negeri yg lain selama sebulan untuk mendapatkan satu hadits yg diriwayatkan Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad No. 746}Kedua: Jalan yg bersifat maknawi yaitu mencari ilmu dari pendapat dan perkataan para ulama’ dan kitab-kitab.Maka orang yg menelaah kitab-kitab utk mengetahui dan mendapatkan hukum permasalahan syari’at walaupundia duduk diatas kursinya maka ia telahmenempuh satu jalan mendapatkan ilmu.Barang siapa duduk dihadapan seorang syaikh dia belajar darinya maka ia telah menempuh jalan utk mendapatkan ilmu walaupun ia duduk.Barangsiapa menempuh jalan tersebut maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga krn dgn ilmu syar’i engkau akan mengerti hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta’ala. Engkau mengetahui syari’at Allah apa yg diperintahkan dan apa yg dilarang-Nya sehingga engkau ditunjuki ke jalan yg Allah Azza wa Jalla ridhoi dan menghantarkan engkau ke jannah. Manakala bertambah semangat dalam menempuh jalan yg mengantarkan kepada ilmu maka bertambah pula kemudahan jalan yg mengantarkanmu ke surga.Dalam hadits ini terdapat dorongan spirit utk “tholabul ilmi” tanpa diragukan oleh seorangpun. Maka sudah sepantasnya bagi manusia utk segera mempergunakan kesempatan.






BABIII
A.Kesimpulan
Bawasaanya orang yang berinfak mendapat ganti, dan orang yang bahil mendapatkan kerusakan ladi kita diajarkan untuk benar – benar mengetahui carai berinfak dengan baik dan benar dan tidak hanya mementingkan dunuawi saja.















DAFTAR PUSTAKA


http://hadits-qudsi.blogspot.com



[1] http://hadits-qudsi.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar